Pencarian
Bahasa Indonesia
  • English
  • 正體中文
  • 简体中文
  • Deutsch
  • Español
  • Français
  • Magyar
  • 日本語
  • 한국어
  • Монгол хэл
  • Âu Lạc
  • български
  • Bahasa Melayu
  • فارسی
  • Português
  • Română
  • Bahasa Indonesia
  • ไทย
  • العربية
  • Čeština
  • ਪੰਜਾਬੀ
  • Русский
  • తెలుగు లిపి
  • हिन्दी
  • Polski
  • Italiano
  • Wikang Tagalog
  • Українська Мова
  • Lainnya
  • English
  • 正體中文
  • 简体中文
  • Deutsch
  • Español
  • Français
  • Magyar
  • 日本語
  • 한국어
  • Монгол хэл
  • Âu Lạc
  • български
  • Bahasa Melayu
  • فارسی
  • Português
  • Română
  • Bahasa Indonesia
  • ไทย
  • العربية
  • Čeština
  • ਪੰਜਾਬੀ
  • Русский
  • తెలుగు లిపి
  • हिन्दी
  • Polski
  • Italiano
  • Wikang Tagalog
  • Українська Мова
  • Lainnya
Judul
Naskah
Berikutnya
 

Dari Afrika dengan Cinta, Bagian 4 dari 10

Details
Unduh Docx
Baca Lebih Lajut
Dalam episode ini, percakapan berlanjut dengan humor yang lembut dan apresiasi yang tulus antara Maha Guru Ching Hai dan para murid Bambi Baaba.

Hai, mereka anak-anak yang besar. Mereka tumbuh sangat besar. (…semuanya alami.) Oh, ya. Saya tahu. Alami, alami. Saya tahu. Ini produknya. Mereka menanamnya sendiri. Mereka tumbuh, tumbuh, pisangnya tumbuh sendiri.

Apakah Anda bisa mendengar saya? Saya rasa hidup saya ujian bagi mikrofon. Apakah Sang Guru memiliki mikrofon di sana? (Terkadang, ya.) Kadang-kadang. Apa yang mereka pakai? Baterai? Karena tidak ada listrik. Atau memang mereka memilikinya? (Terkadang kami gunakan baterai.) Oh, ya, ya. Tidak bisakah kita buat semacam generator mandiri atau sejenis itu? Kita bisa melakukan itu. (Ya. Dulu, kami pernah mempunyai generator.) Tapi ini merepotkan. Jika rusak, lalu Anda harus selalu merawatnya. (Mengganggu. Sangat berisik.) Suara sangat bising. Oh, oh, oh.

Oh, oh, oh, ini terbakar. Matikan, tolong matikan. Dia tampak… Serangga atau semacamnya. Matikan yang ini juga – cepat, cepat, cepat. (Seekor serangga terbang ke atas; (Dia terbakar.) (Apa yang terbakar?) (Guru, kami tidak bisa melihat-Mu.) Gunakan Mata Kebijaksanaanmu. Sekarang mereka hanya ingin melihat pisangnya saja. Mereka tidak peduli pada saya. Oh, astaga. Karena serangga, Jadi, itulah masalahnya. Saya tak suka melihat serangga terbakar. Apa itu? (Maaf.) Jadi kita sudah merayakan dengan pisang, jadi Anda sudah punya foto terbaik. Naik turun – maksud saya, sesekali Anda bisa menyalakan lampu. Adakah lampu di lantai atas sana? (Saya rasa memang ada.) Ya? Ya, tentu. Jika alat itu menyala, mungkin kita punya cukup persediaan. Atau bahkan di sini. Yang besar.

Jadi, ini surat dari Sang Guru. Astaga. …Dia tahu itu baik untuk egoku. Dia memaafkan saya. (Dia mengerti.) Dia mengerti, ha? Ini bukan masalah baginya. Dia adalah orang yang sangat luar biasa jika Dia menyadari hal itu. Tapi saya tidak tahu bagaimana Dia bisa mendapatkan buku-buku saya dan semua barang saya dan semua itu. Dia tahu segalanya tentang saya. Dan saya tak tahu apa pun tentang-Nya. Itu “fantastis.” Saya tahu sesuatu tentang Dia - Saya tahu bahwa Dia dapat berjalan di atas air, bahwa Dia dapat tidur di udara, dan Dia dapat menghilang. Dia sudah mempelajari seni menghilang dan hal-hal semacam itu, kan? Saya juga bisa melakukan itu. Saya bisa berjalan di atas air dengan bantuan sepotong kayu di bawahnya dan sebagainya. Dan terkadang saya berbaring di udara dengan tempat tidur gantung, hanya dengan tempat tidur gantung. Dan saya selalu turun dari langit, setiap kali saya pergi ke suatu tempat. Saya baru saja datang dari langit, tepatnya dari Air France. Tidak masalah. Saya selalu penuh dengan kekuatan magis.

Oh, Guru – Dia mengetahui simbol dari hal yang telah kita lakukan. Simbolnya – bukan uangnya, tetapi kekuatan simbolis yang ditambahkannya ke negara Anda. Guru Anda sungguh rendah hati. Saya harus belajar kerendahan hati ini. Saya sangat menyukai ini karena saya adalah Maha Guru. Masalah dengan Maha Tinggi.

Guru Anda sungguh rupawan. Dia pasti orang yang sangat baik – sangat murni, sangat rendah hati – kecuali ketika Dia menyuruhmu menulis surat itu, 20 kali, menulis ulang. Saat itu, Anda berpikir, "Sebaiknya Anda pergi ke Himalaya." Ya, ya. Betapapun besarnya pengabdian kita kepada Guru, terkadang sulit untuk menerima teguran, dan kita berpikir, "Apa yang sedang saya lakukan di sini?" Menulis ulang surat sebanyak dua puluh kali – ya Tuhan. Namun (Tuhan) Milarepa perlu waktu empat tahun: membangun kembali rumah itu berulang kali, dengan segala kesulitan. Menulis surat itu cukup mudah. Anda melakukannya dengan komputer. Dia sangat rupawan.

Dia sangat rupawan. Anda tulis ini atas persetujuan-Nya? Semua ini? Guru yang mendikte? (Ya, itulah dikte-Nya yang tepat.) Oh, Ya Tuhan. Ia sangat rendah hati. Dia sendiri adalah seorang Guru. Apa yang sedang Dia bicarakan? Dia berbicara seolah Dia murid saya. Menurutmu saya bisa terima semua ini? (Mungkin Guru lebih tahu daripada yang ditulis Guru.) Saya tidak terbiasa dengan itu. Saya tidak terbiasa dengan semua kesopanan ini. Anda tahu cara aku bicara – Saya suka bercanda, saya sangat “kasar”. Mungkin saya terlalu “kasar” bagi-Nya. Menurutmu Dia mampu menerima kehadiran saya saat saya tiba di sana? (Tentu.) Hah? (Dia akan.) (Tentu.) Apakah Dia tahu seperti apa kepribadian saya? Menurut saya Dia pria yang sangat baik dan serius. Dia tertawa, atau tidak? Benarkah? (Ya, Dia memang punya.) Benarkah?

Dia sering bercanda? (Ya.) Kalau begitu, itu tidak masalah. Jika tidak, saya tidak tahu cara berhubungan dengan-Nya. Anda lihat betapa putihnya Bulan di sini? (Karena sekarang berada di Eropa.) Ya. Warnanya hitam di Afrika, kan? Hitam itu indah. Oh, Anda menulis surat yang indah. Siapakah ibu ini? Emmerasi, Emmerasi Jerani. Oh, nama Anda panjang sekali di Afrika. Ya Tuhan, butuh waktu setengah jam bagi saya untuk membaca namanya. Odera Emmerasi Jerani Nambieri Keramera.

Ini adalah bahasa yang indah. Saat Anda berbicara… Bisakah Anda bicara dalam bahasa Afrika agar saya bisa mendengarnya? Kedengarannya sangat renyah. Ya. Nama-nama di Afrika itu indah. (Dia berbicara bahasa Suwan, dan saya berbicara bahasa Chiganda.) Benarkah? Anda tak bisa komunikasi. Oh, jadi berbeda? (Ya, dia berasal dari Mata.) (Tapi saya juga bisa bahasa Uganda.) Maksud saya, bahasa Luganda.) Ya. Kalau begitu, tolong bicara Luganda. Tolong bicara. Anda bisa? (…Guru Ching Hai.) Anda juga mengulanginya. Anda bicara dengannya dalam bahasa Luganda. (…Ching Hai.) Apa...? Saya mengerti “Ching Hai”, tapi selebihnya, saya tidak tahu. Jadi, ada apa dengan “Ching Hai”?

(Kami ingin menyampaikan rasa syukur yang sebesar-besarnya atas anugerah dan Rahmat yang sangat langka ini dari Para Guru Kebijaksanaan yang telah memungkinkan kita untuk hadir dan diberkati dengan kehadiran Kaki Teratai Maha Guru Ching Hai.) Terima kasih banyak. Guru Anda telah mengajari Anda dengan sangat baik, dari cara Anda bicara. Murid saya tidak bicara seperti itu. Mereka tidak tahu apa itu “Kaki Teratai”. Mereka tak pernah bicara seperti itu. Ketika mereka datang kepada saya, mereka tidak pernah berkata, “Oh, kami memberi hormat di Kaki Teratai-Mu.” Mereka berkata, “Guru, di mana makanannya?” “Di mana dapurnya?” “Dan permen (vegan) ku, kue (vegan) ku, makanan (vegan) berkahku – di mana?” Begitulah cara murid saya berbicara. Saya khawatir mereka akan menulari ashram Anda dengan beberapa perilaku kasar mereka. Saya tak pernah mengajari mereka.

Cara bicara Anda indah sekali. Menurut saya ini lebih baik. Sebagian besar tradisi memang seperti itu, kecuali tradisi kita. Mereka tak berbicara seperti Anda. Mereka tak karang puisi seperti itu. Setiap kali Anda melihat mereka, mereka hanya ingin makanan. Saat mereka melihat saya, mereka hanya ingin makanan. Mereka ingin makanan (vegan) dari bandara, dan mereka ingin makanan itu sampai ke sini, lalu besok mereka menginginkannya lagi.

Oh, ini indah sekali, cara Anda berbicara. Kebanyakan orang Afrika yang pernah saya temui, mereka bicara seperti itu. Mereka berbicara seperti puisi, dan itu sangat menyenangkan saya. Saya rasa saya akan mengirim murid-murid saya ke Uganda untuk diajari oleh Guru Anda tentang tata krama dan cara berbicara. (Namun di Afrika, kami juga berpikir bahwa kami akan belajar tata krama yang tinggi dari Taiwan (Formosa).) Ah, benarkah? Tidak. Di Taiwan (Formosa), kami hanya bekerja. Kita mungkin tidak terlalu memperhatikan sisi puitis dari kehidupan spiritual. Mungkin karena saya terlalu tidak sabar dengan misi yang harus saya lakukan. Saya ingin menyelesaikannya dengan cepat, lalu pensiun, pergi ke Uganda, dan mencari semak belukar di dekat Guru Anda. dan menghabiskan waktu saya. Dan tata krama dunia, biarlah mereka mempelajarinya. (Terima kasih kembali.) “Terima kasih kembali”, ya?

Photo Caption: “Kita Adalah Satu! ”

Unduh Foto   

Tonton Lebih Banyak
Semua bagian (4/10)
1
Kata-kata Bijak
2026-02-09
882 Tampilan
2
Kata-kata Bijak
2026-02-10
636 Tampilan
3
Kata-kata Bijak
2026-02-11
562 Tampilan
4
Kata-kata Bijak
2026-02-12
439 Tampilan
5
Kata-kata Bijak
2026-02-13
303 Tampilan
Tonton Lebih Banyak
Video Terbaru
Berita Patut Disimak
2026-02-13
271 Tampilan
Berita Patut Disimak
2026-02-13
290 Tampilan
Kata-kata Bijak
2026-02-13
303 Tampilan
Berita Patut Disimak
2026-02-12
583 Tampilan
37:28
Berita Patut Disimak
2026-02-12
1 Tampilan
Kata-kata Bijak
2026-02-12
439 Tampilan
Acara
2026-02-12
3 Tampilan
Veggie Elite
2026-02-12
2 Tampilan
Bagikan
Bagikan ke
Lampirkan
Mulai pada
Unduh
Mobile
Mobile
iPhone
Android
Tonton di peramban seluler
GO
GO
Aplikasi
Pindai kode QR, atau pilih sistem telepon yang tepat untuk mengunduh
iPhone
Android
Prompt
OK
Unduh